Solusi Pariwisata Sulut Ala Alumni UGM

Taufik Tumbelaka

Manado,Redaksisatu.Com - Target datangkan Wisatawan Asing ke Nyiur Melambai telah didengungkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut  dibawah pemerintahan Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw sejak awal pemerintahan beberapa tahun lalu.

Bahkan pada agustus medio 2017 ini demi genjot kunjungan wisatawan asing ke Sulut,
 Gubernur Olly jalankan program 1 juta wisatawan mananegara (Wisman) masuk Sulut. Bahkan mendorong Kabupaten/Kota menciptakan agenda pariwisata berskala Internasional.

Gubernur Olly juga menargetkan menambah 12 penerbangan atau jalur per hari dari Brunai Darusallam, Korea dan Jepang sehingga target perhari 2500 orang dikali 3 bulan bisa 30 ribu bisa diraih sampai Desember 2016.

“Per hari 2500, hingga 2017 target bisa lebih 1 juta wisman. Misalnya, Minahasa selenggarakan tempat-tempat pariwisata religius sehingga menjadi kunjungan destinasi baru, begitu pun dengan Minut dengan budaya tentang goa-goa Jepang,”jelas Olly waktu itu.

Namun inilah kendala yang dihadapi menurut pengakuan Gubernur Olly Dondokambey. Dia mengakui harus hadapi, infrastruktur di Sulut saat ini selama menjabat sangat minim. Tantangan lain bagi Pemprov, Sulut tidak masuk 10 destinasi unggulan dari Kementerian Pariwisata. Namun Olly mendorong dengan lakukan road show di Kabupaten/Kota.

“Mudah-mudahan didukung warga Sulut, yaitu tadi kita sama-sama perbaiki infrastruktur di masing-masing Kabupatem/Kota agar target 1 juta wisman hingga 2017 tercapai juga peluang warga Sulut menciptakan lapangan pekerjaan,”kata Olly.

Saat ini, Sulut mendapat kepercayaan dari maskapai Lion Air, City Link dan Sriwijaya sehingga mereka mau membuka rute dari China ke Sulut.

General Manager Bandara Sam Ratulangi Manado, Minggus E.T Gandeguai mengakui kunjungan wisatawan mancanegara dari China ke Sulut melalui charter flight masih mendongkrak angka penumpang internasional di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado. Hingga 7 November 2017, penumpang dari China yang masuk ke Sulut mencapai 68.116 dengan pergerakan pesawat sebanyak 499 pesawat.

“Hingga awal November saja, jumlah wisman dari penerbangan charter mencapai hampir 68.000. Mereka mayoritas datang dari Guangzhou sekitar 22 ribu penumpang," jelasnya.

Maskapai Lion Air dengan status charter berjadwal yang mengangkut para wisman Tiongkok hingga saat ini melayani empat rute di antaranya Guangzhou, Changsha, Shenzhen, dan Shanghai. 

Sedangkan untuk domestik, Bandara Sam Ratulangi menghubungkan rute penerbangan langsung ke beberapa rute diantaranya Jakarta, Makassar, Surabaya, Sorong, Denpasar, Luwuk, Balikpapan, Naha, Melonguane, Gorontalo, Galela, Ambon, Kao, Ternate.

Koordinator Satgas Pariwisata Sulut, Dino Gobel masih optimistis hingga akhir tahun jumlah kedatangan turis di Sulut bisa menembus 100.000 orang. 

“Sampai akhir November saja sudah menembus 85.000 wisatawan yang datang ke Sulut,”ungkapnya.

Menurut Taufik Tumbelaka Pengamat politik dan pemerintahan Sulut Alumni Universitas Gadjah Madah (UGM) di Sulut (Kagama) menawarkan beberapa solusi yang bisa dilakukan Pemprov Sulut.

menilai pariwisata di Nyiur Melambai bak kapal tak memiliki nahkoda karena tak memiliki tujuan yang jelas.

"Pariwisata yang ada di Sulut tak memiliki arah karena sampai saat ini belum bisa di rasakan oleh masyarakat kecil atau Wong Cilik," ujar Tumbelaka, selaku narasumber pada kegiatan tersebut.

Tumbelaka memberikan contoh kota Jogja menurutnya ada perbedaan yang signifikan dengan Provinsi Sulut dalam mengelolah sektor pariwisata.

"Di Jogja para wisatawan yang ada di Hotel datang berbelanja pada pedagang kecil, dengan harga yang relatif murah, jadi ada sinergitas antara pemodal dengan masyarakat," terangnya.

Terlebih menurut Tumbelaka, Turis yag datang di Sulut capai 100.000 tapi tak menyetuh kalangan bawah sedangkan di Kota Jogja ada kawasan kampung Sosrowijayan/Malioboro yang kunjungan wisatawan capai 1.000.000 pertahun dan sangat bermanfaat bagi masyarakat kecil.

"Apa lagi soal ornamen budaya. Kalau disana (Jogja) orang sudah tahu ini Jogja karena ada identitasnya, tapi di Sulut tak ada ornamen yang menyatakan ini Sulut. Orang berani bayar mahal hanya untuk melihat nilai-nilai budaya dan adat,"tandasnya.(***/Obe)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
close
Banner iklan disini