Steven Kandouw Tak Pernah Dukung Radikalisme



MANADO - Jika orang tak kenal dengan sifat dan gaya bicara dari putra asli Minahasa Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw maka orang pasti akan beranggapan lain.

Gara-gara gaya dialeg yang agak telor dan body languange yang sudah jadi bawaan sejak lahir, Steven Kandouw jadi uring-uringan Netizen dalam sebuah video pernyataan Steven Kandouw soal vonis terhadap Ahok saat melakukan inspeksi kelapangan pada Selasa (9/5/2017) akhir pekan lalu.

Saat menonton video tersebut, Para Netizen berpendapat Steven Kandouw dalam kondisi mabuk tanpa mengetahui pasti bahwa body languange Kandouw sejak lama sudah seperti itu dengan aksen yang agak telor.

Sementara itu, menyoal soal tanggapannya dinilai Netizen tak memancarkan sebagai seorang pemimpin. 

Tapi pada intinya, maksud dan tujuan dari Steven Kandouw adalah penegakan pembelajaran kepada kita semua jangan kaitkan masalah agama apalagi soal ayat-ayat dan hajatan-hajatan politik, harus dilihat dari sisi penegakan supremasi hukum dan bukan hanya kepada Ahok.

“Ini menjadi Jurisprudensi bagi kasus-kasus penghinaan agama yang harus divonis berat. Jadi Habib Rizieq harus dihukum berat dan FPI harus dibubarkan, Pemerintah harus menghukum berat para penghina agama, dengan tidak memandang bulu. Siapa pun yang menghina agama lain, wajib mendapat hukum berat, karena NKRI sudah harga mati,” tandas Kandouw.

Sementara itu, Politikus PDIP Sulut Paukus Sembel mengatakan Sekarang hangat dimedia sosial  tentang tanggapan Wagub soal putusan Ahok. Bahkan Statemen wagub ini mulai banyak disalah artikan, sehingga banyak mempertanyakannya.

Dikatakannya, Kebetulan saya hadir saat itu dan wagub spontanitas menjawab pertanyaan beberapa wartawan sehubungan dengan masalah Ahok dihalaman parkir bagian belakang kantor DPRD Sulut, Selasa (9/5-2017).

Jawaban wagub memang ceplas ceplos, bahwa dia setuju dengan penegakan supremasi hukum termasuk soal masalah yang dihadapi Ahok.

Dan menurut wagub hal ini menjadi pembelajaran kepada kita semua bahwa jangan kaitkan masalah agama apalgi soal ayat-ayat dengan hajatan-hajatan politik. Tanggapan wagub tidak sampai disini, tapi dia juga menyampaikan, bahwa termasuk yang bakar-bakar Gereja dan rumah ibadah harus ditangkap, demikian menurut Wagub.

Jadi sekali lagi menurut Sembel, jawaban wagub "menjawab pertanyaan wartawan" ini, harus dilihat dari sisi penegakan supremasi hukum dan bukan hny kepada Ahok tapi siapa saja harus diberlakukan hal yang sama secara adil. Khusus soal Ahok karena memang sudah terjadi (berdasarkan putusan hukum) sehingga wagub setuju soal penegakkan hukumnya, kendati bukan berarti wagub tidak prihatin apa yang dialami Ahok. 

"Justru sebagai seorang pejabat, statemen ini adalah seorang negarawan kendati dari sisi primordial mungkin ada yang merasa kurang srek dengan tanggapan wagub demikian. Begitulah pribadi seorang Steven Kandouw yang sering bicara blak-blakan dan terkadang fulgar, tapi yang pasti dia tidak ada maksud sedikitpun meremehkan perjuangan Ahok dan para pendukung serta simpatisannya termasuk yang ada di Sulut," kata Sembel.

Lanjut Sembel, Sebagai kader PDI Perjuangan yang mendukung pencalonan Ahok-Djarot pada pilkada DKI yang lalu, tentunya Kandouw paham kondisionalnya.

"Makanya hal ini tidak perlu dibesar-besarkan, apalagi sampai ada yang membuat akun palsu Steven Kandouw di fb,"tandasnya.(Obe)



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
close
Banner iklan disini