Ehabond - Komix Resahkan Anggota DPRD Sulut

Komisi IV DPRD Sulut Saat Koordinasi Bersama
Biro Kesra Sulut.


MANADO - Bahaya lem Ehabond dan Komix sudah jelas, namun masih saja jadi "idola" kalangan remaja mengkonsumsi sebagai pengganti alkohol.

Data Badan Narkotika, Katanya, paling banyak menggunakan ehabond adalah kalangan remaja SMP, SMA, sudah menjamur ke anak SD.

Situasi ini membuat resah, bahkan anggota DPRD Sulut akhirnyaangkat bicara mencari solusi.

Anggota DPRD Sulut, Norri Supit begitu mencemaskan masa depan anak remaja Sulut yang menggunakan Ehabond ataupun Komix secara berlebihan.

Saat rapat koordinasi Komisi IV DPRD Sulut bersama Kepala Biro (Karo) dr. Devi Tanos, legislator Dapil Minut-Bitung ini mengatakan sangat memiriskan hal itu terjadi bagi anak-anak muda generasi penerus bangsa.

“Ada anak-anak yang memanfaatkam lahan pekuburan untuk dijadikan tempat mengonsumsi barang-barang tersebut. Dari soal pengawasan, terkait maraknya pemakaian lem Ehabond dan Komix, saya hanya ingin mempertanyakan bagaimana sosialisasi yang dilakukan oleh biro kesra sendiri, ” ujar Norri Supit, Selasa (27/2/2018).

Menanggapi ini, Tanos yang juga istri Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan dinas terkait yang ada di Kabupaten/Kota karena itu kewenangannya kabupaten/kota.

“Terkait sosialisasi tersebut, itu merupakan kewenangan dari dinas kesehatan dan dan dinas pendidikan. Maka dari itu, kita akan berkoordinasi dengan dinas yang ada di kabupaten/kota,” tandasnya.

Terkait pasien pengguna zat-zat tersebut, BNN Sulut telah melakukan rehab di Sulut sampai Juni 2017 ada 257 orang. Mulai dari pecandu narkotika, sabu, ganja, ehabond, somadril, Trihex. (Obe)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
close
Banner iklan disini