Iklan

9 Klenteng, 14 Usungan Kio Dan 11 Tangsin Turun Kejalan Kawasan Pecinan Manado

Redaksi Satu
March 02, 2026, 07:42 WIB Last Updated 2026-03-01T23:45:44Z

 





MANADO - Kota Manado kembali bersiap menyambut perayaan Cap Go Meh 2577 Imlek yang diprediksi akan berlangsung meriah dan jatuh pada hari Selasa (3/3/2026).

Sebanyak sembilan klenteng di bawah naungan Perhimpunan Tempat Ibadah Tridharma (PTID) Kota Manado dipastikan bakal menggelar prosesi ritual dan budaya yang menjadi daya tarik wisata religi terbesar di Sulawesi Utara. Minggu (1/3/2026)

Ketua Perhimpunan Umat Tridharma Manado, Ridwan Sanyoto, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan telah dimulai dari 1 Minggu yang lalu dan hari ini mereka menggelar upacara Goso Peda (Gosok Pedang). Ritual ini merupakan bentuk penghormatan pada hari kemuliaan Kongco Kwan Kong.


“Tadi itu adalah acara Goso Peda, hari kemuliaan dari Kongco Kwan Kong. Di mana pada hari itu, para Yang Suci Sin Beng, khususnya Kongco Kwan Kong, membersihkan segala dosa manusia dan menebusnya,” ujar Ridwan kepada media, Minggu (1/3/2026).

Ridwan menambahkan, prosesi ini dipercaya akan membawa rezeki, kemuliaan, dan kemakmuran bagi kehidupan umat.

“Duta Allah itu melambangkan sosok yang kita percaya dalam Tridharma. Beliau datang untuk menebus dosa dan menyucikan acara Cap Go Meh kita nanti,” imbuhnya.

Untuk perayaan Cap Go Meh tahun ini, Ridwan mengungkapkan akan ada 14 usungan Kio dan 11 Tangsin yang akan turun ke jalan. Rute yang dilalui tetap mengikuti jalur tradisional seperti tahun-tahun sebelumnya di kawasan Pecinan Manado.

Menariknya, perayaan ini tidak hanya berisi ritual keagamaan, tetapi juga kolaborasi budaya yang kental.

Prosesi Ritual: Kehadiran Tangsin dan usungan Kio sebagai simbol kehadiran roh suci (Sin Beng) yang memberikan berkat.

Prosesi Non-Ritual: Pertunjukan seni budaya Minahasa, aksi bela diri Wushu dan Karate, hingga iringan Drumband.

“Kami mencoba mengumpulkan semua budaya dan adat di Kota Manado untuk meramaikan acara.Kami juga berterima kasih kepada Pemkot Manado dan pihak Kepolisian yang telah mendukung penuh acara ini,” kata Ridwan.

Sementara itu, Rohaniawan (Ceng It) tertua Tridharma di Sulawesi Utara, Ronny Loho atau yang akrab disapa Kho Co, memaparkan makna mendalam di balik perayaan Goan Siau atau Cap Go Meh.

Menurutnya, Cap Go Meh yang jatuh pada malam ke-15 setelah Imlek adalah momentum untuk merukunkan semua suku dan mengucapkan syukur atas berkat setahun yang lalu.

“Di sini kita menganut tiga ajaran: Konghucu, Budhisme, dan Taoisme dalam naungan Tempat Ibadah Tridharma (TITD). Saat prosesi jalan raya, Sin Beng keluar melalui Tangsin untuk memohon keselamatan bagi seluruh umat manusia,” jelas Ronny.

Ia juga menekankan bahwa berkat dari Sang Kuasa (Sang Kwan Tai Te) harus dibarengi dengan amal kebajikan. Ronny mengaitkan ajaran Tridharma dengan falsafah lokal Minahasa yang dipopulerkan Sam Ratulangi.

“Kita harus berbuat kasih sayang dan menolong sesama. Ada istilah ‘Si Tou Timou Tumou Tou’, manusia hidup untuk menghidupkan orang lain. Jadi, selain ritual, kita dianjurkan memperbanyak amal kebajikan,” tegasnya.

Terkait aksi Tangsin yang kerap dianggap ekstrem oleh orang awam, Kho Co meluruskan bahwa hal tersebut bukanlah pamer kekebalan.

“Itu bukan ‘bedemon’ atau mandi kebal. Sin Beng masuk ke badan kasar (Tangsin) untuk menebus kelemahan, kekurangan, dan dosa-dosa umat manusia dengan cara menyiksa diri,” tutupnya.

Pihak panitia berharap masyarakat luas dapat hadir menyaksikan perayaan terbesar di Manado ini dengan tetap menjaga kerukunan antarumat beragama.

Baca Juga

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • 9 Klenteng, 14 Usungan Kio Dan 11 Tangsin Turun Kejalan Kawasan Pecinan Manado

Terkini

Iklan